nazarUPAYA UPGRADING MAHASISWA  (Suatu Wacana)*

Oleh: Nazarudin,S.Si,M.Si, PhD** 

  

1.1    Pendahuluan

Berbicara mengenai ekonomi sumber daya manusia tentu tidak dapat lepas dari masalah penduduk dan angkatan kerja sehingga kedua masalah itu baik secara kuntitatif maupun kualitatif wajib diberi perhatian utama dalam pembangunan. (Wirosuharjo). Data statistik menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK)  di Propinsi Jambi cenderung mengalami peningkatan. Bila dilihat dari perkembangan TPAK dari hasil sensus tahun 1991, rata-rata TPAK  adalah 59,74%. Pada tahun 2000 TPAK rata-rata naik menjadi 66,34% (Anonim,2000).

Dengan mengurangi rata-rata TPAK 1991 dengan TPAK 2000, terlihat bahwa angka kenaikan TPAK selama 10 tahun hanya 6,6%. Ini berarti angka pengangguran (nyata, terselubung) di Propinsi Jambi selama 10 tahun cukup besar bekisar antara 30%-35%. Dan dari peningkatan TPAK yang hanya 6,6% kemungkinan terdapat angkatan kerja yang telah menganggur selama 10 tahun.

Timbul pertanyaan bagi civitas akademika UNJA siapkah lulusan UNJA bersaing memperebutkan kesempatan kerja yang ada.  Pertanyaan selanjutnya, dimanakah letak sebagian besar lulusan UNJA, tertampung di pangsa kerja ataukah di kotak-kotak pengangguran yang berserakan di lorong-lorong.

1.2    Upaya Upgrading Mahasiswa

               Dengan memperhatikan semakin tingginya persaingan mencari kerja, mahasiswa  UNJA haruslah dipersiapkan agar mampu bersaing mendapatkan pekerjaan. Namun hendaknya langkah-langkah yang diambil untuk mempersiapkan lulusan UNJA yang berkualitas tidak semata-mata terfokus ke peningkatan IP mahasiswa semata. Karena kenyataan di lapangan IP yang tinggi dari lulusan suatu universitas tidaklah menjamin mudah mencari kerja.

               Langkah peningkatan kualitas mahasiswa hendaknya dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan azas  SEIT  (Spiritual Quotient, Emotional Quotient, Intellectual Quotient, talent)  dari mahasiswa. Dengan menggunakan azas SEIT diharapkan peningkatan kualitas mahasiswa menjadi Insan Utama (insan kamil) yaitu adalah insan yang mempunyai iman, memahami ilmu, menerapkan ilmu dan mampu mengembangkan ilmu sekaligus amal (action) sesuai dengan bakatnya (talent).

            Secara teoritis azas SEIT mudah ditulis, mudah diucapkan namun secara praktek bukanlah sesuatu yang mudah walaupun juga bukanlah suatu konsep yang tidak mungkin diterapkan. Bila konsep ini akan diimplementasikan perlu keseriusan dan konsistensi semua pihak yang terkait dalam suatu lembaga pendidikan.

1.3    SEIT

SEIT adalah suatu azas atau konsep yang integrated, suatu konsep yang mencoba mengoptimalkan variabel-variabel kemanusian peserta didik. Variabel-variavel tersebut adalah: energi dan daya spritual (Spritual Quotient), potensi dan kearifan emosional (Emotional Quotient), potensi dan daya pikir (Intellectual Quotient), potensi bakat (Talent).

Sebenarnya bila dilihat secara konsep, SEIT bukanlah barang baru namun penamaannnya yang mungkin berbeda. Sudah cukup banyak literature yang membahasnya dan sudah cukup luas didiskusikan oleh pakar-pakar pendidikan bahkan oleh masyarakat umum. Namun mengapa dalam implementasinya dan output-nya terjadi kesenjangan dengan konsep SEIT.

            Terjadinya kesenjangan ini dimungkinkan karena penerapannya di kurikulum belum optimal.  Tidak optimalnya konsep ini dikarenakan pelaksanaannya dalam pengajaran yang cenderung teoritis dan tidak berbasis ke mahasiswa atau dengan kata lain tidak melihat mahasiswa sebagai siswa (peserta belajar) yang mampu belajar mandiri.

             Melihat kenyataan ini, mari kita mencoba berpikir untuk merancang suatu kurikulum simple sehingga memungkinkan untuk dilaksanakan. Pada makalah ini dipaparkan secara singkat suatu wacana mempraktiskan konsep SEIT.

1.4    Konsep Kurikulum SEIT Berbasis Mahasiswa

Kurikulum berbasis mahasiswa diartikan sebagai kurikulum yang me-maha-kan mahasiswa, suatu kurikulum yang menganggap mahasiswa merupakan insan dewasa yang kemandiriannya sudah cukup. Sehingga dalam kurikulum ini mahasiswa diajak menjadi subyek dalam proses pengajaran, bukan hanya sebagai obyek pengajaran.

Pelaksanaan kurikulum berbasis mahasiswa ini, pelaksanaannya dimulai dari awal mahasiswa masuk sebagai peserta didik. Di awal masuk, peserta didik harus di seleksi tidak hanya kemampuan akademiknya namun bakatnya juga. Seleksi bakat ini dilakukan dengan pertimbangan jangan sampai mahasiswa masuk suatu prodi yang yang sangat jauh dari potensi bakatnya.

Dari awal mahasiswa masuk menjadi peserta didik konsep SEIT berbasis mahasiswa langsung diterapkan. Penerapan SEIT berbasis mahasiswa dimulai dengan membentuk kelas-kelas SEIT Dasar. Kelas-kelas SEIT Dasar yang dibentuk terdiri dari:

  1. a.Kelas Kajian Rohani (agama)
  2. b.Kelas Filsafat
  3. c.Kelas Psikologi Terapan

Pada kelas-kelas SEIT Dasar ini, pengajar hanya memfasilitasi kajian-kajian. Yang terpenting pada kelas-kelas ini mahasiswa diajak menelaah konsep-konsep dasar pemikiran dan perilaku manusia. Kelas ini juga dapat dijadikan sebagai wadah penggodokan dan kawah candradimuka diskusi pemikiran dan perilaku manusia yang disusun dan dirancang secara bersama-sama antara sraf pengajar dan mahasiswa. Kelas ini selalu ada (ditawarkan) setiap semester.

            Pada mata kuliah keilmuan atau keahlian konsep SEIT diterapkan dengan memfokuskan kepada kemandirian mahasiswa. Mahasiswa diajak berpikir menelaah silabi-silabi perkuliahan yang akan diajarkan dan kemudian merancang secara bersama-sama. Dalam pelaksanaan perkuliahan mahasiswa lebih banyak diajak berdiskusi, dan pada akhir perkuliahan mahasiswa diharapkan menghasilkan suatu tulisan berupa resume perkuliahan.

            Dalam konsep SEIT berbasis mahasiswa ini, topik pada mata kuliah praktikum harus juga dirancang secara bersama antara mahasiswa dan staf pengajar. Permasalahan dan metode pemecahan masalah pada praktikum dicari dan dirancang oleh mahasiwa baru kemudian didiskusikan kepada staf pengajar. Pelaksanaannya mahasiswa melaksanakan secara mandiri seperti melakukan penelitian, dan dosen bersikap sebagai pembimbing. Sebagai evaluasi, mahasiwa harus menyusun suatu laporan praktikum berupa makalah.

            Dengan membiasakan mahasiswa mengasah otak-nya dan mendayagunakan potensi dirinya serta menuangkannya dalam bentuk tulisan diharapkan mahasiswa terlatih menelaah dan berpikir sistematis, sehingga membangkitkan energi dan daya intelektual mahasiswa.

1.5    Konsep Extra Kurikulum SEIT Berbasis Mahasiswa

Kegiatan extra kurikulum harus diberi peluang sebesar-besarnya. Pihak lembaga pendidikan hanya memfasilitasi. Bentuk kegiatan dan wadah organisasi tidak perlu dipakemkan oleh lembaga pendidikan. Biarlah mahasiswa yang menentukan bentuk kegiatan, bentuk organisasi, aturan main organisasi, dll. Pihak lembaga pendidikan hanyalah memberi regulasi yang tujuannya untuk mencegah dan mengawasi kegiatan mahasiswa jangan sampai terjerumus dalam kegiatan kriminal.

Bilapun pihak otoritas suatu lembaga pendidikan menawarkan bentuk kegiatan yang wajib ada, maka kegiatan itu adalah kegiatan Kelompok Riset Mahasiswa dan Kelompok Sastra. Suatu rekomendasi hendaknya setiap lembaga pendidikan memiliki Koran kampus atau majalah kampus sebagai wadah informasi dan komunikasi. Baik sebagai wadah informasi dan komunikasi hasil penelitian (kajian ilmiah) maupun informasi-informasi ringan seputar kehidupan kampus.

 

Penutup

               Dengan menerapkan Konsep SEIT berbasis mahasiswa diharapkan lulusan lembaga pendidikan tinggi, tidak hanya menjadi pekerja (buruh) namun menjadi Insan Utama (insan kamil) yaitu adalah insan yang mempunyai iman, memahami ilmu, menerapkan ilmu dan mampu mengembangkan ilmu sekaligus amal (action) sesuai dengan bakatnya (talent). Lulusan yang bukan mencari kerja tetapi yang menciptakan pekerjaan (interpreneur). Pekerjaan yang diciptakan tidak hanya pekerjaaan teknis keilmuwan contohnya pekerja pabrik, tetapi pekerjaan yang menciptakan dan mengolah pemikiran-pemikaran  contohnya wartawan, kolumnis, penulis buku, konsultan, dll.

Daftar Pustaka

Anonim, 2000, Propil Penduduk dan Tenaga Kerja, BPS Propinsi Jambi

Wirosuharojo, Kartomo, 1995 Kebijaksanaan Kependudukan dan Ketenaga Kerjaan di

          Indonesia LPFE-UI, Jakarta