Antara Sekolah dan Penjara

Dr. Bambang Hariyadi[1]

Sekolah adalah salah satu tempat dilaksanakanya kegiatan pembelajaran untuk menghasilkan generasi yang memiliki pengetahuan, ketrampilan dan moralitas yang tinggi.  Sekolah yang baik dapat membekali murid-muridnya dengan berbagai pengetahuan, ketrampilan, dan tatakrama yang diperlukan bagi kehidupan masa depan seorang anak.  Idealnya, sekolah dengan berbagai kegiatan pembelajaranya merupakan tempat yang menyenangkan sehingga anak-anak dapat mengembangkan potensi dan bakatnya secara maksimal. 

Dalam kenyataannya, baru sebagian kecil sekolah yang benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak.  Selebihnya, masih banyak anak-anak yang merasa “terpaksa” untuk pergi sekolah.  Hal ini dengan mudah dapat dilihat dari beberapa indikator misalnya anak-anak yang tidak antusias untuk pergi ke sekolah; anak-anak yang lebih merasa senang bila gurunya sakit atau tidak datang.  Sebagai contoh seorang anak kelas 2 SD di salah satu sekolah terkenal di Jambi dimarahi dengan cara dibentak-bentak di kelas di depan teman-temanya yang lain hanya gara-gara ketahuan membawa mainan ke sekolah.  Contoh yang lain, seorang anak kelas 1 SMP sedang tidak mood untuk mengikuti pelajaran.  Melihat anak muridnya yang tidak responsif, guru kemudian memarahi anak tersebut dengan kata-kata yang kasar.  Sejumlah nama-nama binatang pun meluncur dari mulut guru tersebut. Mendapat perlakukan semacam ini anak merasa sangat malu; harga dirinya tercabik-cabik sehingga akhirnya si anak tidak lagi antusias untuk belajar atau bahkan tidak mau lagi kembali ke sekolah.  Bagaimana mungkin anak-anak dapat mengembangkan bakat dan potensinya secara maksimal dalam lingkungan pembelajaran semacam ini? Sekolah tak ubahnya sebagai “penjara” yang memasung perkembangan minat, bakat dan potensi seorang anak. 

Para ahli pendidikan telah menyadari adanya kondisi belajar yang tidak menyenangkan tersebut.  Beberapa model pembelajaran pun dikembangkan misalnya saja model-model pembelajaran yang aktif, inovatif kreatif, efektif, dan menyenangakan (PAIKEM).  Pendekatan semacam ini merubah paradigma belajar yang selama ini terkesan kaku, pasif, serius, dan membosankan menjadi sesuatu yang mudah, sederhana, menghibur, dan menyenangkan. Tetapi, pada kenyataanya hanya sebagian kecil saja guru atau sekolah yang benar-benar dapat menerapkan PAIKEM ini.  Bila ditelaah lebih lanjut, ada sejumlah alasan panjang yang menghambat berkembangnya PAIKEM di sekolah.

Di sisi yang lain, penjara adalah tempat bagi orang-orang yang telah divonis melanggar hukum.  Di dalam penjara ini ruang gerak dan kebebasan seseorang dikekang untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan masa hukuman masing-masing.  Melalui pembatasan semacam ini para penghuni penjara (nara pidana) diharapkan dapat memperbaiki perilaku dan perbuatan negatif yang sebelumnya telah dilakukannya.  Sebagian dari penghuni penjara tersebut adalah lulusan sekolah ataupun universitas yang perilaku kehidupan tidak sesuai (bertentangan) dengan norma-norma hukum yang berlaku.

Bagaimanakah proses pendidikan di dalam penjara?  Apa hebatnya pendidikan ataupun kurikulum yang ditawarkan oleh penjara sehingga orang-orang yang memiliki pendidikan formal yang cukup, bahkan sebagian diantaranya adalah pejabat (mantan), doktor bahkan professor, ”masih juga perlu” belajar lagi di penjara? Adakah kesamaan atau perbedaan antara sekolah dan penjara?

Berbeda dengan pendidikan yang diberikan di sekolah pada umumnya, pendidikan di penjara lebih mengedepankan pada pendekatan behaviorisme.  Dalam hal ini narapidana yang menjadi “peserta didik” diarahkan untuk  berperilaku tertentu agar sesuai dengan kaidah (hukum) yang berlaku.  Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatan secara fisik, misalnya berupa kekerasan, tidak jarang digunakan untuk memaksa “peserta didik” untuk mengikuti serta berperilaku sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diberikan.  Selain behaviorisme, pendekatan pembelajaran konstruktivisme juga berlangsung di penjara, terlepas apakah pendekatan ini benar-benar direncanakan atau terjadi dengan sendirinya secara alami. 

Lingkungan penjara tak ubahnya lingkungan di sekolah.  Ruang-ruang tahanan (sel) yang menjadi tempat tinggal nara pidana setara dengan ruang-ruang kelas yang ada di sekolah.  Bahkan beberapa waktu yang lalu diberitakan adanya ruang tahanan spesial yang nyaman yang dilengkapi dengan AC,  televisi, kulkas dan fasilitas lainnya yang tentunya diperuntukkan khusus bagi “peserta didik eksekutif”.  Di penjara-penjara yang besar biasanya juga terdapat struktur kepengurusan seperti halnya “Pengurus OSIS” atau “Pengurus Kelas” di sekolah.  Ada tokoh-tokoh yang secara defakto diakui sebagai “ketua”, meskipun pemilihanya tidak dilakukan melalui  proses yang demokratis seperti yang dilakukan di sekolah. 

Sekolah di penjara memiliki standar kelulusan yang sedikit berbeda dari standar yang diterapkan di sekolah pada umumnya.  Dalam hal ini kriteria kelulusannya hanya ada dua yaitu “taubat” atau “menjadi penjahat yang lebih hebat”.  Selain bergaul dengan teman-teman “satu kelas”, para nara pidana juga memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan nara pidana dari kelas-kelas yang lain, baik dengan kelas yang lebih tinggi maupun kelas yang lebih rendah. Kesempatan seperti ini sangat dimanfaatkan untuk “menimba ilmu” diantara sesama narapidana.  Ada kalanya diantara para penghuni penjara terdapat satu dua orang yang memiliki moral dan spiritualitas yang baik yang memberikan “pencerahan” bagi sesama nara pidana.  Pendekatan pembelajaran semacam ini sering kali lebih efektif dalam memperbaiki moral dan perilaku narapidana daripada model pembelajaran klasik yang diberikan oleh guru di kelas.  ”Peserta didik” yang mengambil “jurusan” ini biasanya akan menjadi lulusan yang “taubat”; yang menginsyafi perbuatan buruk yang telah dilakukannya.

Di sisi yang lain, interaksi antar sesama narapidana juga memberikan peluang untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan sehingga menghasilkan “lulusan yang lebih hebat”.  Misalnya, seorang narapidana yang dihukum gara-gara mencuri ayam saling berbagai pengetahuan dan ketrampilan dengan nara pidana yang dihukum karena terlibat dalam sindikat pencurian sepeda motor.  Singkat kata, seorang nara pidana pencuri ayam pun akhirnya paham mengenai “kunci T” (peralatan standar yang biasanya digunakan untuk menjebol kunci sepeda motor), serta seluk beluk lainnya yang terkait dengan operasi pencurian sepeda motor.  Meskipun pada awalnya mencuri ayam dilakukannya karena terpaksa sekadar untuk memenuhi tuntutan perut yang tidak bisa ditunda; bisa diperkirakan bahwa narapidana semacam ini berpotensi untuk naik kelas dan menjadi penjahat yang lebih hebat.  Apalagi masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya sudah terlanjur mengecapnya sebagai pencuri.  Tidak mengherankan bila sejumlah penjahat-penjahat hebat merupakan “lulusan” dari penjara karena memang di tempat itulah mereka “bersekolah”.  Malangnya lagi, di beberapa kota di Indonesia, penjara orang dewasa masih belum dipisahkan dari penjara anak-anak sehingga narapidana anak-anak sesungguhnya memiliki resiko yang tinggi untuk terperangkap lebih dalam pada kehidupan hitam tersebut.

Potret kegiatan pembelajaran di penjara hanyalah salah satu dari sekian banyak proses pembelajaran yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.  Proses pembelajaran tidak hanya terjadi di bangku-bangku sekolah tetapi juga berlangsung pada berbagai aktivitas kehidupan yang lain.  Melalui momentum bulan pendidikan di bulan Mei ini, ada baiknya untuk menyimak kembali semangat untuk memajukan pendidikan bagi semua orang (education for all) sebagaimana yang telah gencar dipromosikan oleh Organisasi Pendidikan Dunia (UNESCO) sejak dua dekade yang lalu.  Pendidikan tidak hanya berlangsung melalui lembaga pendidikan (sekolah) saja tetapi juga berkembang melalui berbagai kegiatan yang lain dalam kehidupan sehari-hari.  Pendidikan tidak hanya menjadi hak bagi orang-orang yang mampu (bersekolah) saja, tetapi juga menjadi hak bagi seluruh anak-anak (warga negara).  Upaya-upaya kecil dan sederhana yang dilakukan untuk memperbaiki pendidikan di lingkungan (keluarga) masing-masing, secara akumulatif dapat memperbaiki pendidikan masyarakat menuju terbentuknya masyarakat pembelajar (the learning society).  Semoga sekolah tidak lagi menjadi “penjara” bagi anak-anak sekolah dan sebaliknya, semoga penjara juga akan menjadi “sekolah” yang lebih baik untuk kedamaian dan kesejahteraan tidak hanya bagi para penghuninya, tetapi juga bagi masyarakat di sekitarnya.

 


[1] Dr. Bambang Hariyadi, Sfaf Pengajar di Program Studi Pendidikan Biologi Unversitas Jambi